Setelah berpusing-pusing ria
belajar, ngerjain tugas dan juga final exam di kampus tercinta. Liburan yang
dinantikan pun tiba, laksana rafunzel yang menanti sang pangeran untuk
membebaskannya, laksana kang kabayan menanti iteung (emang begitu kisahnya?),
laksana katak dalam tempurung (ga nyambung). *stop_gilanya
Showing posts with label Cerita pendek. Show all posts
Showing posts with label Cerita pendek. Show all posts
Hatinya berbunga-bunga seperti tembang sunda “Hate Bungangang, rapot alus angkana”. Tapi bukan nilai rapot yang
saat ini membuat hati Ze bahagia, melainkan ia baru saja menerima informasi
bahwa ia lulus SNMPTN. Pagi itu setelah mendapatkan informasi yang mengejutkan,
Ze langsung menghampiri Ibunya untuk menyampaikan kabar bahagia tersebut. Tetapi
hal yang mengejutkan terjadi untuk kebahagiaan Zebaeda.
“Ze, Malang itu jauh banget. Kamu juga sering banget sakit-sakitan.
Ibu Bapa khawatir sama kamu Ze. Kalau mah kamu di Jakarta, jadi kalau kamu
nanti sakit, Ibu Bapa bisa segera tau kondisi kamu. Sedangkan kalau kamu di
Malang, butuh satuh hari untuk Ibu sampai sana. Kamu ngerti ya Ze.” Saran
Ibunya lembut
Hati Ze tertegun
ketika mendengar ibunya berkata seperti itu. Hatinya berontak tak karuan. Ze
hanya berlari ke kamar, ia menangis tersedu-sedu di kamarnya. Hingga kedua
orangtuanya datang.
“Ko kamu malah nangis sih Ze?” Bapanya sedikit emosi.
“Gimana Ze ga nangis, dulu pas Ze bilang mau kemana? Ibu Bapa bilang
terserah Ze. Tapi sekarang apa? Kenapa tiba-tiba dilarang?” Ze menangis emosi.
“DUUAAAAKKK..!!!!!” Bapa menendang pintu. “KENAPA SIH KAMU TUH SUKA
NGEBANTAH, IBU BAPA NGELARANG JUGA BUAT KEBAIKAN KAMU ZE.!!!!!” Bentak Bapa.
Setelah itu, Bapa dan
Ibu hanya pergi meninggalkan Ze sendiri di kamar. Ze tetap menangis dalam
kesedihan yang amat mendalam. Tapi Ze menyadari mungkin Malang bukanlah kampus
yang terbaik untuk dirinya. Akhirnya Bapa menyarankan Ze untuk mengikuti tes
masuk di salah satu perguruan tinggi swasta favorit di Jakarta. Dan
Alhamdulilah Ze lulus dan mendapatkan juara ke III dalam tes masuk PTS
tersebut, Ze bahagia karena itu. Lantas Ze tenang dan semoga di PTS ini adalah
pilihan terbaik untuknya. Tapi kejadian yang mengejutkan terjadi lagi dalam
hidup Ze setelah ia mendapatkan berita dari kedua orangtuanya.
“Ze, kamu kuliah tahun depan aja ya kuliahnya.” Ibu bilang
“HAH? KENAPA BU?” Ze tersentak.
“Mendadak haji ibu ama bapa dipercepat tahun ini Ze, uang buat kamu
kuliah mau bapa ibu bawa dulu.” Ibu menjelaskan.
Ze tak tahu harus
bagaimana ia menyikapi ini semua. Ia hanya bisa meneteskan air matanya terus
dan terus tiada henti. Ia harus bisa melewati semua ini dan menerima semua
keadaan karena ini menyengkut impian ibu dan bapanya untuk pergi haji. Ze tak
ingin membuat mereka berdua sedih jika mereka tidak jadi pergi haji karena
uangnya tak ada. Ia bersabar dan mencoba mengerti, mungkin ini yang terbaik
untuknya.
Setahun telah Ze
lewati dengan hanya bermain di rumah karena orangtuanya tidak membolehkan Ze
untuk bekerja. Ze bertekad, tahun ini Ze harus kuliah. HARUS KULIAH!!!!! Ze tak
mau melewati setahun lagi yang membuat hidupnya datar dan tidak menikmati
kehidupan seperti teman-teman sebayanya.
Akhirnya Ze mencoba
di salah satu perguruan tinggi swasta bisnis yang baru buka perkuliahannya,
tetapi merupakan bagian lembaga yang sudah termahsyur namanya hingga ke luar
negeri. Dan Alhamdulillah Ze diterima di perguruan tinggi swasta tersebut. Ze
bahagia saat ini dan merasa sangat nyaman untuk kehidupannya saat ini. Ze
yakin, semua yang ia jalani dan lewati adalah hal yang terbaik untuk
kehidupannya kelak.
TAMAT.........................!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Kala itu langit tengah menangis
sedih dan menjatuhkan air matanya di atas karpet tanah yang sudah sobek dan
retak tak karuan. Sama halnya dengan hati gadis yang sedang diguyur rasa gundah
gulana yang berkecamuk dalam benaknya, meratapi kegundahannya di sisi jendela. Nama
gadis itu Zebaeda, panggilan akrab untuk ia adalah Ze, ia saat ini duduk di
bangku kelas tiga SMA.
“Ting..tong..ting..tong..” Bel sudah menjerit tanda pelajaran akan
dimulai.
Kini suasana sekolah sudah
tenang, dan saat itu kelas Zebaeda sedang belajar matematika Pak Khafi. yang
gurunya terkenal akan motivasinya kepada siswanya untuk terus berusaha keras
agar bisa melanjutkan ke PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Ketika Ze pulang
sekolah, ia selalu terngiang dalam benaknya kata-kata sang guru “Kalian itu
kalau ingin lulus SNMPTN, pintar saja tidak cukup!!! Tapi kalian juga harus
cerdas dan cerdik mengambil peluang.” Kata-kata itu yang menemani langkah
pulang Ze.
“Assalamu’alaikum.”
Ia tiba di rumah.
“Wa’alikumsalam,
Ze sudah pulang?.” Ibunya menyahut
Ze langsung menuju kamarnya
bergegas membersihkan dirinya, setelah itu itu mencoba berdiskusi kepada kedua
orangtuanya perihal kelanjutan pendidikan ia yang sudah harus ia hadapi.
“Ze, kuliah
dimana baiknya menurut Ibu sama Bapa.?” Ia memulai pembicaraan.
“Untuk urusan
itu, Bapa sama Ibu serahkan sama Ze keputusannya.” Ibunya bilang
“Jadi Ibu Bapa
setuju-setuju aja sama pilihan Ze.?” Ia menegaskan
“Iya Ze.” Ibunya
meyakinkan.
Hati Ze tenang mendengar
keputusan Ibu dan Bapanya, UN telah ia capai. Dan saat ini ia sebentar lagi
mengahadapi ratusan juta manusia berebut untuk mendapatkan PTN. Try out demi try out ia hadapi, soal yang Pak
Khafi berikan untuknya perlahan-lahan ia kerjakan dengan serius. Kata-kata yang
keluar dari mulut Pak Khafi ia tanamkan dalam hati “Ingat, kalian harus pintar
mencari peluang! Harus cerdas memilih jurusan, jangan selalu tergoda akan
jurusan favorit, tidak semua jurusan itu bisa cocok untuk kalian! Semua jurusan
itu baik tidak ada yang tidak baik.”
Hari mendebarkan itu tiba, Ze
berangkat dengan niat sungguh-sungguh dan dibekali restu orangtua juga keringat
belajarnya ia berjuang. Soal-soal SNMPTN ia lahap sebisa otaknya berpikir. Dan
ia tinggal menunggu hasil keringatnya itu. Sekian lama menunggu, pengumuman itu
tiba. Tapi Ze tidak berani membuka hasilnya sampai keesokan harinya.
“Kukuruyuk....kukuruyuk...”
Para ayam sudah berceloteh ria di pagi hari
Ze terbangun
dengan mengusap kedua matanya, ia langsung mencari handphone yang biasa ia gunakan,
barangkali ada temannya yang memberi informasi tentang kelulusanku.
“ 5 pesan
diterima.” Tulisan di hpnya
Dan ia langsung
lompat kegirangan setelah mengetahui bahwa ia lulus SNMPTN di pilihan ke-2
yaitu di Malang.
To Be
Continued.....
AKANKAH
ZEBAEDA BAHAGIA SETELAH ITU? APAKAH
SEBALIKNYA, IA AKAN MENDERITA !!!